Minggu, 05 Desember 2010

Thaharah

Standar Kompetensi
(Fiqih)
:
5. Memahami Ketentuan-ketentuan Thaharah (Bersuci)
Kompetensi Dasar
:
5.1 Menjelaskan perbedaan hadas dan najis.
5.2 Menjelaskan ketentuan-ketentuan wudlu dan tayammum.
5.3 Menjelaskan ketentuan-ketentuan mandi wajib.
Indikator
:
5.1.1 Menjelasakan pengertian hadas dan najis serta menunjukkan dasar hukumnya.
5.1.2 Menyebutkan macam-macam hadas dan cara mensucikannya.
5.1.3 Menyebutkan macam-macam najis dan cara mensucikannya.
5.1.4 Menyebutkan perbedaan antara hadas dan najis.
5.2.1 Menjelaskan pengertian wudlu dan dasar hukumnya.
5.2.2 Menjelaskan pengertian tayammum dan dasar hukumnya.
5.2.3 Menjelaskan pengertian tayammum dan dasar hukumnya.
5.2.4 Menjelaskan tatacara wudlu dan tayammum.
5.2.5 Mempraktikkan wudlu dan tayammum di sekolah.
5.2.6 Menyebutkan perbedaan antara wudlu dan tayammum.
5.3.1 Menyebutkan hal-hal yang menyebabkan mandi wajib.
5.3.2 Menjelaskan tatacara mandi wajib.
5.3.3 Mendemonstrasikan mandi wajib secara singkat.
Materi Ajar:
Thaharah (Bersuci)
Secara bahasa, Thaharah berarti bersuci. Sedangkan menurut istilah, berarti membersihkan diri dari hadats dan najis pada pakaian, badan, dan tempat.
1. Najis dan Hadats
  1. Najis, adalah suatu benda kotor yang menyebabkan seseorang tidak suci.
· Najis Mukhoffafah (ringan), seperti air kencing bayi laki-laki yang berusia kurang dari 2 tahun dan belum makan apa-apa selain ASI. Cara mensucikannya najisnya cukup dengan memerciki air pada tempat yang terkena najis.
· Najis Mutawasithoh (sedang), seperti: tinja/kotoran manusia/hewan, darah, nanah, bangkai. Cara mensucikannya yaitu dibasuh/dicuci dengan air sampai hilang wujud, bau, warna, maupun rasanya.
· Najis Mugholazah (berat), seperti air liur, kotoran anjing dan babi yang mengenai badan, pakaian, atau tempat. Cara mensucikannya yaitu dicuci sampai tujuh kali dengan air dan salah satu di antaranya dicampur dengan tanah/debu yang suci.
  1. Hadats
Hadats, adalah suatu kondisi di mana seseorang dalam keadaan tidak suci menurut ketentuan syara’.
· Hadats Kecil, yaitu keadaan tidak suci menurut ketentuan syara disebabkan keluarnya sesuatu (selain sperma, darah haid, dan nifas) dari qubul (kemaluan) dan dubur (anus) seperti: setelah buang angina, buang air kecil atau besar. Juga, apabila hilang akal, dan tidur nyenyak. Cara mensucikannya dengan wudlu/tayammum.
· Hadats Besar, yaitu keadaan tidak suci menurut ketentuan syara disebabkan keluarnya sperma, darah haid, dan nifas. Cara mensucikannya yaitu dengan mandi wajib/tayammum.
2. Wudlu dan Tayammum
  1. Wudlu, adalah membasuh anggota badan tertentu dengan menggunakan air disertai niat untuk menghilangkan hadats kecil apabila hendak melaksanakan ibadah shalat.
Kaifiyyat/tata cara berwudlu: (1) Berniat lillahi ta’ala; (2) Mencuci kedua telapak tangan sambil membaca basmallah; (3) Kumur-kumur; (4) Istimsyaq dan istimtsar (membersihkan rongga hidung); (5) Membasuh muka; (6) Membasuh kedua tangan sampai siku; (7) Mengusap kepala; (8) Membasuh kedua telinga; (9) Membasuh kedua kaki sampai mata kaki; (10) Berdo’a.
  1. Tayammum, adalah menyapukan/mengusapkan debu atau tanah ke wajah dan kedua tangan sebagai pengganti wudlu atau mandi besar/wajib sebelum shalat.
Kaifiyyat/tata cara tayammum: (1) Berniat lillahi ta’ala; (2) Meletakkan kedua tangan di tempat yang berdebu sambil membaca basmallah; (3) Menyapu wajah dengan debu; (4) Menyapu kedua tangan sampai siku; (5) Berdo’a.
3. Mandi Wajib
Yaitu maandi yang dilakukan apabila seseorang dalam keadaan berhadats besar.
Kaifiyyat/tata caranya: (1) Berniat lillahi ta’ala; (2) Mencuci kedua telapak tangan sambil membaca basmallah; (3) Mencuci kemaluan dengan tangan kiri; (4) Berwudlu; (5) Menyela-nyela jemari tangan dan menuangkan air ke atas kepala sebanyak 3 kali; (6) Meratakan air ke seluruh tubuh/mandi; (7) Membasuh kedua kaki; (8) Berdo’a.


Mau tahu lebih jelas lagi tentang tata cara berwudhu sesuai sunnah Rasulullah SAW? Mau lihat animasi flash tentang berwudhu? Silahkan klik di sini

Mau download animasi flash mengenai kaifiyyat/tata cara Wudhu sesuai contoh Rasulullah SAW? Silahkan klik di sini=> Download

Tawaduk, Ta'at, Qana'ah dan Sabar

Standar Kompetensi
(Akhlak)
:
4. Membiasakan Perilaku Terpuji
Kompetensi Dasar
:
4.1 Menjelaskan pengertian tawadlu, taat, qana’ah, dan sabar.
4.2 Menampilkan contoh-contoh perilaku tawadlu, taat, qana’ah, dan sabar.
4.3 Membiasa-kan perilaku tawadlu, taat, qana’ah, dan sabar.
Indikator
:
4.1.1 Menjelaskan pengertian tawadlu dan menunjukkan dalil naqlinya.
4.1.2 Menjelaskan pengertian taat dan menunjukkan dalil naqlinya.
4.1.3 Menjelaskan pengertian qana’ah dan menunjukkan dalil naqlinya.
4.1.4 Menjelaskan pengertian sabar dan menunjukkan dalil naqlinya.
4.2.1 Menampilkan contoh-contoh perilaku tawadlu.
4.2.2 Menampilkan contoh-contoh perilaku taat.
4.2.3 Menampilkan contoh-contoh perilaku qana’ah.
4.2.4 Menampilkan contoh-contoh perilaku sabar.
4.3.1 Membiasakan perilaku tawadlu, taat, qana’ah, dan sabar dalam lingkungan keluarga.
4.3.2 Membiasakan perilaku tawadlu, taat, qana’ah, dan sabar dalam lingkungan sekolah.
4.3.3 Membiasakan perilaku tawadlu, taat, qana’ah, dan sabar dalam lingkungan masyarakat.
Materi Ajar:
Perilaku Terpuji (tawadlu, taat, qana’ah, dan sabar)
1. Tawadlu, yaitu rendah hati, tidak sombong, dan menghargai orang lain. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Luqman [31]: 18-19:
18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[1182] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
2. Taat, yaitu melakukan segala yang diperintahkan dan meninggalkan segala yang dilarang. Dalil naqlinya:
59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisaa: 59).
3. Qana’ah, yaitu kemampuan diri dalam menerima dan mensyukuri, serta merasa cukup terhadap setiap anugerah dan nikmat Allah. Dalil naqlinya:
172. Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.
4. Sabar, yaitu menahan diri, tegar, serta kegigihan kita untuk tetap berpegang teguh kepada ketetapan Allah dalam menghadapi segala cobaan dan ujian dalam kehidupan. Dalil naqlinya:
153. Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah [2]: 153).




Asmaaul Husna

Standar Kompetensi
:
1.1 Menyebutkan arti ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan 10 Asmaul Husna.
3.2 Mengamal-kan isi kandungan 10 Asmaul Husna.
Standar Kompetensi
(Aqidah)
:
3.1 Menyebutkan arti ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan 10 Asmaul Husna.
3.2 Mengamalkan isi kandungan 10 Asmaul Husna.
Indikator
:
1. Membaca ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan 10 Asmaul Husna (Al-Salam, Al-‘Aziz, Al-Khaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-‘Adl, Al-Qayyum, Al-Hadi, Al-Shabur).
2. Menerjemahkan ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan 10 Asmaul Husna (Al-Salam, Al-‘Aziz, Al-Khaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-‘Adl, Al-Qayyum, Al-Hadi, Al-Shabur).
2. Menjelaskan pengertian Asmaul Husna.
3. Mengamalkan isi kandungan 10 Asmaul Husna (Al-Salam, Al-‘Aziz, Al-Khaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-‘Adl, Al-Qayyum, Al-Hadi, Al-Shabur) dalam lingkungan keluarga.
4. Mengamalkan isi kandungan 10 Asmaul Husna (Al-Salam, Al-‘Aziz, Al-Khaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-‘Adl, Al-Qayyum, Al-Hadi, Al-Shabur) dalam lingkungan sekolah.
5. Mengamalkan isi kandungan 10 Asmaul Husna (Al-Salam, Al-‘Aziz, Al-Khaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-‘Adl, Al-Qayyum, Al-Hadi, Al-Shabur) dalam lingkungan masyarakat.
Materi Ajar:
10 Asmaul Husna
(Al-Salam, Al-‘Aziz, Al-Khaliq, Al-Ghaffar, Al-Wahhab, Al-Fattah, Al-‘Adl, Al-Qayyum, Al-Hadi, dan Al-Shabur)
“Asmaul Husna” berarti: Nama-nama Allah yang baik. Allah memiliki 99 Asmaul Husna yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam QS. Al-A’raf, ayat 180:
180. Hanya milik Allah asmaa-ul husna[585], Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya[586]. nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
1. Al-Salam, artinya: Yang Maha Sejahtera. Dalil naqlinya: QS. Al-Hasyr: 23.
2. Al-‘Aziz, artinya: Yang Maha Perkasa. Dalil naqlinya: QS. Ali Imran: 62.
3. Al-Khaliq, artinya: Yang Maha Pencipta. Dalil naqlinya: QS. Al-An’aam: 102.
4. Al-Ghaffar, artinya: Yang Maha Pengampun. Dalil naqlinya: QS. Shaad: 66.
5. Al-Wahhab, artinya: Yang Maha Pemberi Karunia. Dalil naqlinya: QS. Ali Imran: 8.
6. Al-Fattah, artinya: Yang Maha Pemberi Keputusan atau Hakim yang Agung. Dalil naqlinya: QS. Saba’: 26.
7. Al-‘Adl, artinya: Yang Maha Adil. Dalil naqlinya:
8. Al-Qayyum, artinya: Yang Maha Tegak atau Maha Berdiri Sendiri. Dalil naqlinya: QS. Al-Baqarah: 255.
9. Al-Hadi, artinya: Yang Maha Pemberi Petunjuk. Dalil naqlinya: QS. Al-Qashshas: 56.
10. Al-Shabur, artinya: Yang Maha Sabar. Dalil naqlinya:

Mau tahu 99 Asmaul Husna yang lainnya? Silahkan simak dan resapi maknanya dalam film berikut ini:












Iman Kepada Allah SWT (2)

Standar Kompetensi
(Aqidah)
:
2. Meningkatkan Keimanan kepada Allah SWT melalui Pemahaman Sifat-sifat-Nya
Kompetensi Dasar
:
2.2 Membaca ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan sifat- sifat Allah SWT
2.3 Menyebutkan arti ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah SWT
2.4 Menampilkan perilaku sebagai cermin keyakinan akan sifat-sifat Allah SWT
Indikator
:
2.2.1 Membaca ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan sifat nafsiyah (Wujud).
2.2.2 Membaca ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan sifat-sifat salbiyah (Qidam, Baqa’, Mukhalafatu lilhawadits, Qiyamuhu binafsih, dan Wahdaniyyah).
2.2.3 Membaca ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan sifat-sifat ma’ani (Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayyat, Sama’, Bashar, dan Kalam).
2.3.1 Menerjemahkan ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan sifat nafsiyah (Wujud).
2.3.2 Menerjemahkan ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan sifat-sifat salbiyah (Qidam, Baqa’, Mukhalafatu lilhawadits, Qiyamuhu binafsih, dan Wahdaniyyah).
2.3.3 Menerjemahkan ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan sifat-sifat ma’ani (Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayyat, Sama’, Bashar, dan Kalam).
2.4.1 Menyerahkan diri kepada Allah dengan cara bertawakkal.
2.4.2 Belajar giat untuk mendapatkan nikmat dan karunia Allah.
2.4.3 Berbuat baik terhadap sesamanya dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi.
Materi Ajar:
Sifat-sifat Allah SWT
1. Sifat Nafsiyah (dirinya)
  • Wujud. Artinya ada, dan mustahil Allah bersifat Adam (tidak ada). Dalil naqlinya: QS. Ad-Dukhan: 7-8.
2. Sifat-sifat Salbiyah (berbeda dari yang lain)
  • Qidam. Artinya terdahulu tidak berawal, mustahil Allah bersifat huduts (tidak ada). Dalil naqlinya: QS. Al-Hadid: 3.
  • Baqa’, Artinya kekal, mustahil Allah bersifat fana (rusak/ada batas akhir). Dalil naqlinya: QS. Ar-Rahman: 26-27.
  • Mukhalafatu lilhawadits. Artinya berbeda dengan makhluk-Nya, mustahil Allah bersifat mumatsalatu lil hawaditsi (serupa dengan makhluk). Dalil naqlinya: QS. Asy-Syura: 11.
  • Qiyamuhu binafsih. Artinya Allah berdiri sendiri atau tidak memerlukan bantuan pihak lain, mustahil Allah bersifat qiyamuhu bighairihi (memerlukan bantuan pihak lain). Dalil naqlinya: QS. Ali-Imran: 2.
  • Wahdaniyyah. Artinya Allah itu esa/tunggal, mustahil Allah bersifat ta’adud (berbilang/lebih dari satu). Dalil naqlinya: QS. Al-Anbiya: 22.
3. Sifat-sifat Ma’ani (maknawi)
  • Qudrat. Artinya Allah berkuasa atas segala sesuatu, mustahil Allah bersifat ajzun (lemah). Dalil naqlinya: QS. Al-Mulk: 1.
  • Iradat, Artinya terdahulu berkehendak, mustahil Allah bersifat karahah (terpaksa). Dalil naqlinya: QS. Yasin: 82.
  • Ilmu. Artinya mengetahui atau pandai, mustahil Allah bersifat jahlun (bodoh). Dalil naqlinya: QS. Al-Hujurat: 16.
  • Hayyat. Artinya hidup, mustahil Allah bersifat mautun (mati). Dalil naqlinya: QS. Al-Baqarah: 255.
  • Sama’. Artinya mendengar, mustahil Allah bersifat summun (tuli). Dalil naqlinya: QS. Al-Maidah: 76.
  • Bashar. Artinya melihat, mustahil Allah bersifat umyun (buta). Dalil naqlinya: QS. Al-Hujurat: 18.
  • Kalam. Artinya berfirman atau berkata, mustahil Allah bersifat bukmun (bisu). Dalil naqlinya: QS. An-Nisa: 164.

Iman Kepada Allah SWT (1)

Mau lebih jelas mempelajari materi ini? Silahkan lihat presentasi berikut ini:



Adapun uraian materi Iman kepada Allah SWT, adalah sbb:


Standar Kompetensi
:
2. Meningkatkan Keimanan kepada Allah SWT melalui Pemahaman Sifat-sifat-Nya
Kompetensi Dasar
:
2.1 Menunjukkan tanda-tanda adanya Allah SWT
Indikator
:
2.1.1 Menjelaskan pengertian iman kepada Allah.
2.1.2 Menyebutkan tanda-tanda adanya Allah melalui fenomena alam semesta.
2.1.3 Menyebutkan tanda-tanda adanya Allah melalui ciptaan-ciptaan-Nya.
2.1.4 Menyebutkan tanda-tanda adanya Allah melalui dalil naqli.
Materi Ajar:
Iman kepada Allah SWT
1. Pengertian iman kepada Allah
Iman” menurut bahasa berarti: keyakinan, atau kepercayaan. Secara istilah, iman kepada Allah berarti: kepercayaan tentang adanya Allah sekaligus membenarkan apa saja yang datang dari Allah dengan cara meyakini dalam hati, menyatakan dengan lisan, dan membuktikannya dengan amal perbuatan.
2. Tanda-tanda adanya Allah melalui fenomena alam semesta dan semua ciptaan-Nya
Bukti atau tanda-tanda yang menunjukkan adanya Allah SWT adalah adanya alam semesta dan segala isinya. Seandainya Allah tidak ada, tentu alam semesta ini tidak akan ada pula, karena Allah yang menciptakan alam semesta dan segala isinya, termasuk semua makhluk hidup yang Ia ciptakan.
3. Tanda-tanda adanya Allah melalui dalil naqli
Firman Allah SWT:
*QS. Ad-Dukhan: 7-8
7. Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini.
8. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu. (QS. Ad-Dukhan: 7-8).

* QS. Ali Imron: 19
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. Ali Imron: 190).


Iman Kepada Allah SWT

Mau lebih jelas mempelajari materi ini? Silahkan lihat presentasi berikut ini:



Adapun uraian materi Iman kepada Allah SWT, adalah sbb:


Standar Kompetensi
:
2. Meningkatkan Keimanan kepada Allah SWT melalui Pemahaman Sifat-sifat-Nya
Kompetensi Dasar
:
2.1 Menunjukkan tanda-tanda adanya Allah SWT
Indikator
:
2.1.1 Menjelaskan pengertian iman kepada Allah.
2.1.2 Menyebutkan tanda-tanda adanya Allah melalui fenomena alam semesta.
2.1.3 Menyebutkan tanda-tanda adanya Allah melalui ciptaan-ciptaan-Nya.
2.1.4 Menyebutkan tanda-tanda adanya Allah melalui dalil naqli.
Materi Ajar:
Iman kepada Allah SWT
1. Pengertian iman kepada Allah
Iman” menurut bahasa berarti: keyakinan, atau kepercayaan. Secara istilah, iman kepada Allah berarti: kepercayaan tentang adanya Allah sekaligus membenarkan apa saja yang datang dari Allah dengan cara meyakini dalam hati, menyatakan dengan lisan, dan membuktikannya dengan amal perbuatan.
2. Tanda-tanda adanya Allah melalui fenomena alam semesta dan semua ciptaan-Nya
Bukti atau tanda-tanda yang menunjukkan adanya Allah SWT adalah adanya alam semesta dan segala isinya. Seandainya Allah tidak ada, tentu alam semesta ini tidak akan ada pula, karena Allah yang menciptakan alam semesta dan segala isinya, termasuk semua makhluk hidup yang Ia ciptakan.
3. Tanda-tanda adanya Allah melalui dalil naqli
Firman Allah SWT:
*QS. Ad-Dukhan: 7-8
7. Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini.
8. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu. (QS. Ad-Dukhan: 7-8).

* QS. Ali Imron: 19
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. Ali Imron: 190).

Hukum Alif Lam

Hukum bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qamariyah

1. Pengertian hukum bacaan “Al” Syamsiyah.

“Al” Syamsiyah adalah “Al” atau alif lam mati yang bertemu dengan salah satu huruf syamsiyah dan dibacanya lebur/idghom (bunyi “al’ tidak dibaca)

Standar Kompetensi
(Al-Qur’an)
:
1. Menerapkan Hukum Bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qamariyah
Kompetensi Dasar
:
1.1 Menjelaskan hukum bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qamariyah
1.2 Membedakan hukum bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qamariyah
1.3 Menerapkan bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qamariyah dalam bacaan surat-surat al-Qur’an dengan benar
Indikator
:
1.1.1 Menjelaskan pengertian hukum bacaan “Al” Syamsiyah
1.1.2 Menyebutkan contoh-contoh bacaan “Al” Syamsiyah
1.1.3 Menjelaskan pengertian hukum bacaan “Al” Qamariyah
1.1.4 Menunjukkan contoh-contoh hukum bacaan “Al” Qamariyah
1.2.1 Menyebutkan ciri-ciri hukum bacaan “Al” Syamsiyah.
1.2.2 Menyebutkan ciri-ciri hukum bacaan “Al” Qamariyah
1.2.3 Membandingkan ciri-ciri hukum bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qamariyah
1.3.1 Menelaah hukum bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qamariyah dalam QS. al-Dluha
1.3.2 Menelaah hukum bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qamariyah dalam QS. al-‘Adliya
Materi Ajar:
Hukum bacaan “Al” Syamsiyah dan “Al” Qamariyah
1. Pengertian hukum bacaan “Al” Syamsiyah.
“Al” Syamsiyah adalah “Al” atau alif lam mati yang bertemu dengan salah satu huruf syamsiyah dan dibacanya lebur/idghom (bunyi “al’ tidak dibaca).
2. Ciri-ciri hukum bacaan “Al” Syamsiyah:
a. Dibacanya dileburkan/idghom
b. Ada tanda tasydid/syiddah ( ّ ) di atas huruf yang terletak setelah alif lam mati => الـــّ
Contoh:
وَالضُّحَى، وَالشَّمْسِ، يَوْمُ الدِّيْنِ
3. Pengertian hukum bacaan “Al” Qamariyah
“Al” Qamariyah adalah “Al” atau alif lam mati yang bertemu dengan salah satu huruf qamariyah dan dibacanya jelas/izhar.
4. Ciri-ciri hukum bacaan “Al” Qamariyah:
c. Dibacanya jelas/izhar
d. Ada tanda sukun ( ْ ) di atas huruf alif lam mati => الْ
Contoh:

وَالْحَمْدُ، بِاْلإِيْمَانِ، اَلْهَادِى